18 Oct 2009

Asymptote


Tentang si bocah matahari.
Hujan. Selalu hujan. Padahal ini Minggu pagi. Seharusnya pagi ini menjadi pagi terindah dibanding enam hari sebelumnya. Di saat dia ingin bangun siang. Makan sereal dan roti dengan mentega, selai, atau madu. Lambat-lambat. Dia ingin menikmati. Ini satu-satunya hari yang bebas.
Dia tinggal di pinggir kota. Agak jauh dari peradaban dan mesin-mesin canggih. Lebih dekat dengan ladang keemasan dan langit biru, bukit berumput dan pohon-pohon hutan. Dia lebih senang begitu. Dia senang sendiri. Berimajinasi. Tidak melakukan apa-apa, sementara kepala disandarkan pada batang lembap yang kokoh serta kaki memainkan daun-daun gugur yang berisik. Dia sering ke kota besar, untuk sekolah dan nonton bioskop dan bergaul. Tapi dia tidak pernah merasa menjadi bagian dari jalan-jalan lebar serta kerumunan orang. Dia lebih senang menjadi anggota resmi dari komunitas hutan.
Hari itu Minggu pagi. Lagi-lagi hujan, mungkin sudah empat kali berturut-turut. Dia tidak peduli. Dia merasa sudah punya janji yang mengikat dengan para pohon dan para tupai, para rumput dan para kepik, para bunga dan para ilalang. Mereka memanggil. Bebauan mereka terasa sampai di hidung. Mereka sedang menari di tengah hujan dan mereka mau membagi kesenangan.
Jadi dia langsung menyambar ransel. Satu toples penuh biskuit coklat-kacang. Buku usang tebal yang baru beberapa halaman terisi tulisan dan gambar. Arang, tinta, pensil kayu. Payung warna-warni.
Dia berlari menembus hujan. Sepatunya basah total. Lalu celananya. Lalu kausnya. Pada akhirnya sekujur tubuhnya. Payungnya diterbangkan angin. Dia melempar benda itu jauh-jauh, toh sudah robek dua atau tiga. Lalu dia memeluk ransel. Berlari semakin cepat. Menyongsong hujan. Menari dalam hujan.

Tentang si gadis hujan.
Dia, sama sekali, belum pernah bermandikan matahari. Dia kelabu seperti awan mendung. Dia mengeluarkan air mata seperti hujan.
Dia terus menunggu awannya tersingkap. Dia menunggu mataharinya muncul. Dia butuh matahari. Dia bosan menjadi lembab dan berjamur.
Tapi kenapa hujan selalu turun?
Dia melihat bocah itu. Berlari begitu saja menembus hujan. Basah kuyup. Begitu bersemangat. Tidak padam oleh air.
Seperti matahari yang tiba-tiba menyeruak di saat hujan. Sang hujan tidak sempat menghindar. Akhirnya mereka terpaksa hadir bersama-sama, matahari dan hujan itu.
Lalu dia berpikir,
benarkah matahari dan hujan bisa datang bersama-sama?
Bocah itu berlari mendekat. Mencari perlindungan.
Dia tersenyum. Berharap mendapatkan sinar matahari di bawah awan mendung.

Tentang si bocah matahari.
Basah seratus persen. Pasti buku petualangannya juga basah. Lalu biskuit buatan Mum yang superlezat itu. Tapi sudah terlalu jauh untuk pulang.
Dia mendaki bukit, terengah-engah. Seharusnya berkeringat kalau tidak dihapus hujan. Dia melihat pohon maple besar. Dia melihat sesuatu di balik daun-daun merah rimbun. Sesuatu yang beratap dan bercat putih.
Dia melihat rumah pohon.
Dia heran, kenapa dia tidak pernah melihat rumah pohon itu sebelumnya?
Mungkin dia jarang ke sini.
Dia tidak ragu-ragu lagi. Dia mencapai pohon maple itu. Terengah-engah, dia memanjat naik tangga kayu yang dipaku pada batang. Dia mendorong pintu mungil yang sedikit terbuka. Dia masuk.
Di dalam tidak hujan, jelas-jelas. Namun dia untuk pertama kalinya melihat sosok asli sang hujan.

Tentang si gadis hujan.
Kadang dia tidak mengerti apa itu arti teman. Dia tidak pernah punya teman. Dia tidak pernah boleh punya teman. Banyak orang jahat di luar, kata Maman.
Matahari tidak jahat. Matahari mendasari segala proses kehidupan. Membantu tumbuhan berfotosintesis. Lalu tumbuhan itu memberi makan. Oleh karena itu hewan bisa hidup. Juga manusia yang agak lebih pintar. Manusia memanfaatkan ternak tambun dan tanaman pangan untuk mengisi perut hingga penuh.
Kalau matahari sumber kehidupan, bagaimana mungkin dia bisa jahat dan menyakiti?

Tentang si bocah matahari.
Dia sekarang ragu. Apakah dia sudah mengusik?
Dia menyapa. Dia bingung harus mengatakan apa.
Si hujan tersenyum. Menyambut. Memenuhi dunia. Kemudian menarik diri ke bawah bayang-bayang awan lagi. Terkunci rapat.
Kemudian mereka kembali terdiam. Masuk ke dalam dunia masing-masing.
Dia duduk bersebelahan dengan si hujan, bersandar pada tembok yang menghadap ke pintu mungil. Dalam kesunyian dia memperhatikan segalanya. Rumah pohon ini kecil, hanya terdiri dari empat dinding dengan pintu pada bidang frontal dan jendela di sisi sebelah kanan. Si hujan berusaha membuat ruangan ini senyaman mungkin. Dia menumpuk banyak sekali selimut tebal dalam berbagai motif serta bantal-bantal yang berbau gudang. Dia membawa banyak sekali buku cerita. Dia memiliki koleksi pastel dan pensil warna yang masih bagus. Dia membawa bekal pai apel yang sudah dingin.
Segala sesuatu sederhana dan apa adanya. Tapi hujan membuat semuanya terlihat sangat sangat sempurna.

Tentang si gadis hujan.
Matahari terlalu hangat jika hanya dalam jarak kurang dari dua meter. Radiasinya melumerkan kulit. Mencairkan balok-balok es yang memenuhi pikiran.
Bocah itu berbau seperti matahari. Benar-benar radiasi matahari.

Tentang keduanya.
Mereka menunggu hujan reda dalam kesunyian. Tidak ada keinginan untuk berbicara sama sekali. Kehadiran teman jauh lebih berharga daripada kata-kata manis.

Tentang keduanya.
Pertemuan yang kesekian. Meski kata-kata menjadi tidak terlalu penting, namun mereka seperti arbei ranum yang tidak tahan untuk tidak dipetik. Melumuri lidah dengan sari merah manis yang menetes-netes. Tidak muat lagi. Mulut belepotan.
Hal-hal trivial menjadi penting: apel karamel yang dibuatkan Mum, marshmallow dengan selai stroberi, pola-pola yang dibentuk daun gugur, sepatu baru yang langsung ternodai percikan tanah, semut-semut berjajar, bintang-bintang di waktu senja, bukit-bukit berumput, buku-buku cerita, kelinci yang tersesat, jamur-jamur di sela-sela akar, atau pelangi sehabis hujan.
Si bocah membawa petualangan bersamanya setiap kali dia datang.
Sekali dia membeli dua bungkus gula-gula seperti awan berwarna pink. Si gadis berpura-pura percaya gula-gula itu benar-benar sobekan dari awan yang mati-matian dirain si bocah dengan cara melompat setinggi mungkin. Salah satunya retak. Fraktura, kata si bocah. Si gadis tertawa.
Lalu mereka menikmati stroberi-susu yang juga dibawa si bocah.
Atau pernah seperti ini: mereka merasa rumah pohon itu terlalu kosong. Semua dicat putih. Daun-daun kering sering masuk. Sudah agak lapuk di beberapa tempat. Ada lubang kecil di dinding. Maka mereka merapikannya bersama-sama. Mengecat ulang, tetap putih. Menambal yang rusak. Memasang tirai untuk jendela. Meminyaki engsel pintu.
Kemudian pertemuan berikutnya si bocah membawa kertas-kertas persegi. Banyak. Warna-warni.
Mereka melipat burung. Banyak sekali burung. Di lantai berserakan burung. Dan juga bintang. Mereka merenceng burung-burung itu. Memasangnya di langit-langit. Pakai selotip. Burung berwarna-warni. Ada yang bermotif batik. Ada juga yang terpasang terbalik. Mereka menggambar dan menulis cerita pada kertas-kertas yang tersisa. Pastel dan pensil warna. Lalu dipasang di antara burung dan bintang.
Setelah semuanya selesai, mereka berbaring di lantai. Menghadap ke atas. Memandangi kertas-kertas yang berputar-putar. Seperti di dunia impian. Atau memang ini yang disebut dunia impian?
Pertemuan-pertemuan berikutnya. Tenggelam di negeri peri ajaib milik mereka. Setiap Minggu pagi.

Tentang si bocah matahari.
Pertemuan kali itu hujan deras. Entah pertanda baik atau buruk. Si bocah matahari berlari ke arah rumah pohon. Bergegas masuk. Menemukan si gadis. Matanya memerah. Ada bekas-bekas hujan di pipi.
Kenapa kau hujan? Kenapa menangis? Tanyanya heran.
Aku. Kamu. Asymptote. Si gadis menggumam berulang. Aku dan kamu seperti kurva dan garis. Papa bilang begitu.
Aku bilang ke Papa kalau aku ingin mengajakmu main di taman kami yang luas. Atau di dalam lorong seribu kamar dimana aku dan teman-teman dulu sering bermain petak umpet. Kemudian si gadis menceritakan semua yang tidak diketahui si bocah: tentang pesta kebun yang sering diadakan Maman, makanan-makanan lezat, labirin raksasa, gaun-gaun indah, pesta dansa, pelayan-pelayan, kereta kuda, tamu-tamu, dan masih banyak lagi. Tapi suatu hari mereka semua menghilang. Kata Papa, teman hanya sesaat. Konglomerat munafik. Tali persahabatan serapuh benang pada bordiran gaun.
Mungkin maksudnya kita berbeda. Si bocah mengingat-ingat pelajaran sekolah. Matematika. Kurva dan garis dua bentuk yang berbeda. Namun keyakinan si bocah tidak mencapai lima puluh persen.
Hari itu mereka duduk diam, memandangi hujan hingga berhenti.

Tentang si bocah matahari.
Seminggu penuh dia memikirkan kata-kata itu. Aku dan kamu asymptote. Apa maksudnya?
Dia mulai menarik kesimpulan. Sugesti demi sugesti. Dirangkai jadi satu.
Dia hanya bocah petani. Si gadis anak bangsawan. Konglomerat. Tuan tanah. Ya, ya, ya. Itu maksudnya. Status sosial.
Dia memejamkan mata dan menghela nafas kesal. Mengingat-ingat kembali kesedihan si gadis. Lagi-lagi, keyakinannya tidak mencapai lima puluh persen. Rasanya masih ada j├Âtunn setinggi tiga pohon pinus dan berkaki panjang berlumut yang bersembunyi di balik kedok imp rumah kacangan bernama status sosial.

Tentang si bocah matahari.
Pertemuan kali itu dia membawa kotak bekas Baskin Robbins ukuran paling besar. Dia melubangi tutupnya seperti celengan. Memasang benang. Kemudian merekatkan kotak dengan tutupnya.
Dia menggantung kotak itu bersama burung-burung di langit-langit rumah pohon.
Nah, katanya pada si gadis, lupakan soal yang waktu itu. Tempat kita disini, yang tidak diketahui ayah-ibumu. Kau bisa menulis rahasia kita di kertas dan memasukkannya ke dalam kotak ini, rahasia yang tidak diketahui siapapun, rahasia yang bahkan aku sendiri pun tidak tahu. Aku juga akan berbuat seperti itu. Mungkin, di saat yang tepat, kita akan saling membuka time capsule ini, bersama-sama.
Di saat kita sudah tidak asymptote? Si gadis bertanya tanpa tahu artinya.
Yeah. Yeah. Balas si bocah. Meski dalam hati dia berpikir, mereka akan selalu asymptote.

Tentang si bocah matahari.
Dia dan si gadis bertemu dan bertemu sepanjang tahun. Menulis kertas-kertas rahasia, melipatnya kecil-kecil, memasukkannya ke dalam kotak Baskin Robbins yang semakin lama semakin berat. Setelah itu mereka memandangi kotak Baskin Robbins mencerna rahasia mereka sambil berayun perlahan hingga akhirnya berhenti.

Tentang si bocah matahari.
Kemudian, tanggal dan bulan yang sama seperti saat pertama dia menemukan rumah pohon datang. Hari itu hujan sepuluh kali lipat lebih deras daripada tahun lalu.
Mum melarangnya berkeliaran. Terlalu bahaya, katanya.
Namun dia sudah terlanjur janji.
Si gadis mungkin sudah menunggu di rumah pohon sejak pagi, sementara dia tadi lupa dan malah menonton pertandingan sepakbola antar sekolah bersama teman-temannya.
Dia merasa bersalah. Sangat-sangat-sangat bersalah. Perasaan bersalah itu seperti seribu cacing bergigi kait yang menggerogoti bagian dalam tubuhnya.
Saat Mum lengah, dia menyambar jas hujan. Hanya bermodalkan lapisan bahan parasut biru yang berkibar tertiup angin serta perasaan bersalah, dia berlari pergi.

Tentang si bocah matahari.
Dia melihat rumah pohon tepat setelah matahari terbenam. Hujan masih deras tapi ia sudah hampir-hampir kebal. Pukulan kecil-kecil butiran hujan yang jatuh tidak lagi terasa di kulit. Dia sudah tidak peduli.
Di dalam hujan deras ini, jalan ke rumah pohon terasa jauh lebih panjang. Jarak pandangnya sangat terbatas. Dia harus mengira-ngira arah. Sempat tersasar beberapa kali. Terpeleset saat menuruni bukit. Yang paling menghambat adalah jembatan kayu lapuk yang roboh tiba-tiba saat diseberangi, sehingga ia harus berenang melawan arus sungai yang sedang meluap sekencang-kencangnya.
Tapi akhirnya dia melihat rumah pohon itu. Untuk pertama kali dalam seumur hidup, dia merasa selega ini.
Dia cepat-cepat berlari dan memanjat tangga. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam.
Si gadis memang sudah menunggu sejak pagi, namun dia tidak marah. Dia malah tertawa. Menertawai kisah si bocah yang terjerembab ke dalam genangan lumpur dan berenang di sungai. Dia menghargai semua itu.
Ayo kita buka rahasia kita, usul si gadis.
Si bocah heran. Memangnya kita sudah tidak asymptote?
Dulu, ya. Sekarang, tidak. Lihat dirimu. Sekarang aku tahu kalau ternyata ada juga persahabatan yang tidak bisa memudar, yang rela melakukan apapun. Papa dan Maman pasti setuju. Dia pasti juga senang.
Apa maksudmu?
Si gadis membuka tutup kotak rahasia. Membuka time capsule. Membuka hati.
Si bocah membaca kertas-kertas si gadis dengan seksama, demikian juga si gadis membaca kertas-kertas si bocah. Mereka tertawa, menangis, tersenyum, mengeluh, senang, kesal, semua bercampur baur.
Setelah semuanya usai, setelah semua rahasia hingga yang terkecil pun terungkap, si bocah menggenggam tangan si gadis.
Dia berbisik. Ya, sekarang kita berpotongan. Hujan dan matahari datang bersama. Garis kita berhimpit.

Epilog.
Hujan tinggal rintik-rintik. Seseorang mengetuk pintu kayu milik si petani. Istrinya menangis di sofa depan perapian, berulang kali mengangkat telepon namun harapannya sirna saat dia menyudahi pembicaraan. Namun orang itu, kecil dan berantakan. Si tuan rumah langsung mengenalinya: dia teman dekat si bocah. Bersamanya datang juga beberapa teman si bocah yang lain.
Tuan rumah mempersilakan mereka masuk dan menanyakan apa ada berita tentang si bocah. Seorang teman mengeluarkan jas hujan parasut dari ransel.
Teman si bocah menangis. Dia bercerita tentang si bocah yang berulang kali berkata bahwa dia punya sahabat di rumah pohon. Seorang gadis. Tidak tahu di mana dia tinggal, tidak tahu dari mana dia datang. Kadang-kadang dia sering menghilang begitu saja. Si bocah begitu mencintai si gadis hingga rela melakukan apa saja.
Kemudian suatu hari saat si bocah bermain di rumah temannya itu dia melihat lukisan di ruang tamu. Si bocah begitu terpesona dan akhirnya mengatakan lukisan itu mirip sekali dengan si gadis. Yang si bocah tidak tahu, dan yang paling disesalkan, temannya tidak bercerita bahwa lukisan itu karya pelukis lokal yang dibeli kakeknya di pasar lelang.
Ada cerita khusus di balik lukisan tersebut. Si pelukis sedang berjalan-jalan di hutan ketika dia berhalusinasi melihat gadis remaja bergaun pesta yang menari-nari lincah di tengah hutan. Diam-diam dia merekam bentuk wajah si gadis di pikirannya dan melukisnya saat pulang.
Si pelukis mencari tahu siapa gadis itu. Desas-desus lokal mengisahkan cerita tentang mansion sebesar istana dengan kamar-kamar mewah dan labirin raksasa di kebun yang terletak di sisi hutan, yang sekarang sudah tertutup benteng tanaman hingga kabur dari pandangan mata. Konon katanya, kira-kira seabad atau dua yang lalu, mansion itu ditinggali oleh bangsawan perancis kaya raya dan istrinya. Mereka punya empat anak, namun yang diketahui masyarakat umum hanya tiga. Sebab, yang terakhir—seorang gadis—sakit-sakitan dan jarang keluar rumah. Oleh karena itu dia mendekam di rumah pohon hingga suatu hari ditemukan meninggal di dalam rumah mungil putih itu.
Kemudian sejak kematian si gadis, seluruh keluarga itu pindah entah kemana. Si gadis sendiri kabarnya masih sering berkeliaran di hutan, tinggal di rumah pohon putih yang tidak dapat ditemukan siapa-siapa.
Hingga beratus-ratus tahun kemudian, seorang bocah petani—beruntung atau tidak beruntung—menemukan rumah pohon itu di tengah-tengah hujan.
Mereka asymptote. Istilah matematika untuk sebuah garis yang mendekati sebuah kurva namun tidak pernah bertemu di jarak manapun. Seperti manusia dan hantu dari masa lalu, yang partikel-partikelnya tidak bisa bersatu.
Si bocah meninggal hari ini. Dia nekat menyeberangi jembatan yang lapuk dan jembatan itu roboh tepat saat dia berada di tengah sungai. Dia terbawa arus kencang sungai, tidak berhasil berenang ke tepi. Terbentur-bentur bongkah-bongkah batu besar. Dia timbul-tenggelam, kehabisan nafas, tidak kuat lagi. Tubuhnya ditemukan di tepi sungai satu mil dari jembatan. Paru-parunya dipenuhi air. Sudah tidak bernyawa.
Beberapa orang memeriksa hutan dan mencari rumah pohon. Sekarang rumah itu terlihat jelas: sudah dicat ulang, diperbaiki atapnya, ditambal lubang-lubangnya. Langit-langitnya digantungi burung-burung origami. Lantainya dialasi selimut tebal dan bantal-bantal. Spidol warna-warni dan kertas-kertas berserakan. Ada satu kotak bekas Baskin Robbins yang terbuka, di tengah tengah, seolah-olah baru saja dibuka bersama-sama. Di dalam kotak itu terdapat tulisan-tulisan tangan, sebagian acak-acakan dan sebagian lagi rapi tebal-tipis.
Pada tumpukan paling atas, terdapat tulisan: Sekarang garis kita berhimpit. Dipanjangkan sampai kapanpun tetap berhimpit. Ayo kita pergi, kau dan aku. Ayo kita terbang ke negeri peri.

*

2 comments: