22 Oct 2009

Berhimpit

Kedai kopi yang hampir tutup di senja gerimis. Pengunjung yang terakhir. Barista shift malam sedang berberes-beres.
'Satu caffe latte,' dia memesan.
'Panas atau dingin?' barista merangkap kasir bertanya.
'Panas.'
'Ukuran?'
'Paling besar saja.'
'Ada lagi?'
'Tolong jangan tambahkan gula.'
'Duduk saja dulu,' ujar si barista.
Dia menunggu di sofa empuk di sudut dengan posisi duduk senyaman mungkin dan kepala disandarkan.
Hanya dalam beberapa detik barista itu datang dengan satu mug besar caffe latte di tangan. Dia ikut duduk di sofa satunya yang dipisahkan meja.
Dia merogoh saku mencari dompet. Memaki pelan saat dia sadar dia lupa membawa dompet. Receh pun tidak ada. Hanya ada selembar uang yang, dilatarbelakangi janji yang panjang, tidak boleh digunakan.
Dia menatap penuh rasa bersalah pada si barista.
Barista itu tersenyum. 'Kamu tidak perlu membayar uang. Kamu sudah terlalu sering kemari, dan bonus satu caffe latte bukan masalah besar,' dia berhenti sejenak, mungkin berpikir, kemudian melanjutkan, 'tapi ini tidak gratis. Bayar saja dengan jawaban.'
'Kalau begitu, tanyakan pertanyaanmu.'
Barista itu memandang caffe latte yang asapnya masih mengepul-ngepul hangat. 'Kamu sering datang kemari. Dulu. Hampir setiap hari. Selalu pesan yang sama. Dan sekarang kamu tiba-tiba muncul lagi. Masih pesan yang sama. Caffe latte panas tidak pakai gula. Ada penjelasan?'
'Karena saya suka,' jawabnya singkat padat dan jelas, 'dan saya cukup pintar untuk tidak memesan caffe latte dingin saat hujan.'
'Hanya karena alasan itu?'
'Tidak.'
'Lalu?'
'Kamu terlalu ingin tahu.'
'Saya penasaran.'
Dia mengerang.
'Dan saya suka analogimu.'
Dia mengeluh. Berpikir.
'Ayolah. Buatkan saya satu analogi.'
'Begini,' katanya pada akhirnya, 'andaikan caffe latte - kopi dan susu - adalah beraneka ragam manusia-manusia berbeda, orang-orang berbeda, sifat-sifat berbeda. Bahan dasarnya beda. Aromanya beda. Warnanya beda. Cara membuatnya beda. Sejarahnya beda. Bukan sengaja diciptakan untuk saling melengkapi. Tapi tetap sama-sama manusia. Tetap sama-sama zat cair.
'Tapi zaman dahulu kala pasti ada seseorang yang, didasari kesengajaan atau tidak, menemukan bahwa kedua zat cair tersebut bisa dikombinasikan menjadi sebuah minuman dalam gelas. Sama saja seperti manusia. Seringkali kita saling tidak sengaja bertemu. Tidak terduga. Saling mempengaruhi. Saling mengikat. Membentuk sebuah kesatuan.
'Setelah kopi dan susu dicampur dalam satu gelas, mereka tidak bisa dipisahkan lagi. Seperti kalau kamu memiliki teman, banyak sekali teman, yang dekat. Sudah dalam satu gelas. Ada keterikatan. Sulit dipisahkan. Sulit saling melupakan. Semakin kuat campurannya semakin sulit.
'Lalu kopi dan susu - sifat manusia yang beragam - saling menciptakan cita rasa. Saling membutuhkan. Saling dibutuhkan. Agar kopi tidak terlalu pahit dan susu tidak terlalu cair.'
Barista itu mengangguk dan menunggu lagi. Dia tahu cerita belum tuntas.
'Kenapa tidak pakai gula?' tanyanya
'Mmm. Gula. Manis. Terlalu banyak gula terlalu manis. Tidak enak. Diabetes,' kata dia jujur.
'Buatkan analogi lagi,' minta si barista.
'Gula, ya, menimbulkan rasa manis yang terlalu banyak. Rasa asli kopi tidak terasa. Seperti kalau manusia selalu membangun imaji manis yang sempurna untuk menutupi kepahitan dan kekurangan diri. Menjadi sosok yang bukan diri sendiri. Menjadi rasa yang bukan rasa asli. Mengelabui indera pengecap.
'Justru ikatan antar manusia yang kuat didasari keterbukaan yang apa adanya. Tidak malu untuk menjadi cacat. Tidak malu akan kecacatan satu sama lain.'
Dia berhenti.
'Cukup bagus,' balas si barista, 'tapi tolong satu lagi. Kenapa selalu ukuran paling besar?'
'Karena,' dia menjawab, 'sangat sederhana. Saya tahu di dunia ini tidak ada satu hal pun yang berlangsung selamanya. Suatu saat nanti, mau atau tidak mau, rela atau terpaksa, kamu akan mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang kamu kira sudah menjadi milikmu. Apapun itu. Barang bisa rusak. Manusia bisa meninggal. Segala sesuatu bisa berubah.
'Sama seperti caffe latte. Seberapa besar gelasmu, seberapa lama kamu menyeruput, suatu saat akan habis juga. Tapi, paling tidak, caffe latte ukuran besar lebih lama habis daripada yang ukuran kecil.'
Si barista menatap memuji.
'Apa itu cukup?' tanyanya.
'Cukup,' si barista menjawab pertanyaan sahabatnya itu, 'sangat cukup untuk menjelaskan bahwa saya dan kamu adalah segelas caffe latte panas tanpa gula ukuran besar.'
*

No comments:

Post a Comment