5 Dec 2009

untitled 05, [prologue]

Peri-peri plastik.

Lampu-lampu neon.

Katakan, dimana aku sekarang?

Berkedip lemah tak kunjung padam.

Apel ranum menggiurkan, mengkilap seperti kaca.

Cermin-cermin di dinding saling memantulkan sosok-sosok maya.

Mata-mata kelereng.

Mesin-mesin menggumam.

Kabel-kabel terpilin, merah kuning biru.

Jaring-jaring kawat.

Tangan-tangan plastisin.

Tabung-tabung kaca berisi spektrum warna.

Roda-roda berdecit.

Robot-robot bisu.

Layar-layar terhampar.

Putih, putih seperti salju.

Putih seperti jubah-jubah berkibar dan sarung tangan karet.

Sol sepatu bot bergemerisik membangunkan tanah.

Datang setiap bulan penuh.

Rumput-rumput menari, hijau terang menyilaukan.

Pohon-pohon dari karet dan polystyrene.

Tulip, daisy, dan daffodil yang terlalu cerah.

Matahari kuning pucat menusuk.

Dimensi lain tak berbatas.

Pelangi melayang-layang.

Katakan, dapatkah aku terbang?

Awan-awan kapas.

Gulali dan bintang semanis madu.

Dongeng-dongeng nyata.

Kapal-kapal berlayar di angkasa.

Rumah di celah-celah cabang pohon.

Katakan, apa aku sakit jiwa?

Ilusi dan bayangan.

Fiksi bercampur kenyataan.

Katakan, dimana kamu sekarang?

Peri-peri plastik.

Menari-nari kabur dari pandangan.

Sayap-sayap transparan.

Sayap-sayap mengepak hilang.

Aku kehilangan aliran listrik sekarang.

Baterai habis.

Sinyal timbul-hilang.

Katakan, dapatkah aku pulang?

Jantung-jantung buatan.

Dongeng-dongeng semu.

Aku tidak bohong.

Aku tidak berkhayal.

Baumu mulai pudar.

Wajahmu tercampur baur.

Aku hanya ingin pulang.

Peri-peri plastik.

Menari-nari riang.

Bawalah aku terbang.


-July 2009

No comments:

Post a Comment