8 Sep 2010

di perbatasan hari dan petang






Mereka menatap langit dalam keheningan.

Langit.

Jingga.

Senja.

‘Saya menyukai senja,’ kata Farooq.

Dia menggeleng. ‘Senja adalah perpisahan.’

‘Dan juga pertemuan dengan malam.’

Dia menggeleng sekali lagi. ‘Matahari terbenam, lalu semua gelap, seperti tak ada harapan.’

‘Memang.’

‘Matahari cuma ada satu, dan saya takut kalau ia terbenam untuk selamanya. Seperti kiamat.’

‘Kau butuh kegelapan untuk menghargai cahaya, kau butuh malam untuk melihat milyaran bintang.’

‘Lalu?’

‘Kalau tak ada malam, makhluk tidak akan sadar betapa berartinya cahaya matahari.’

‘Memang, bintang saja tak cukup.’

‘Tapi ingat, bintang juga merupakan matahari.’

‘Saya semakin tidak mengerti kamu.’

Farooq tertawa kecil. ‘Kalau matahari padam suatu hari nanti, dan langitmu gelap, coba hitung berapa bintang yang masih ada untukmu. Mereka adalah matahari, meskipun berkali-kali lipat lebih jauh. Sangat jauh. Kamu belum mengenal mereka saja.’

‘Tapi mereka jauh. Dan mungkin milik planet lain, spesies lain, orang lain…’

‘Saya tak keberatan. Saya satu individu. Saya tidak memiliki siapa-siapa dan tidak untuk dimiliki siapa-siapa. Tak ada matahari maupun bintang, saya tetap menjadi saya. Lebih baik tak terikat.’

‘Saya butuh matahari.’

‘Apakah sepenting itu?’

‘Ya.’

‘Matahari tak akan kemana-mana.’

Dia memandangi senja. ‘Sekarang hampir pergi.’

‘Dia masih ada di sisi lain dunia. Lagipula, toh nanti dia akan terbit lagi. Jangan khawatir.’

‘Sepertinya dunia saya sudah kiamat.’

‘Akan ada fajar.’

‘Bukan itu maksud saya. Saya berbicara analogi.’

‘Saya juga,’ balas Farooq, ‘saya juga.’

‘Orang yang mirip denganmu itu. Dia matahari saya. Bintang yang paling dekat dengan saya, hingga saat dia padam, mustahil menggapai bintang lain yang saking jauhnya hingga untuk merasakan kehangatannya saja saya tak bisa.’

‘Ah.’

‘Ada apa?’

‘Tidak. Hanya mengerti.’

Lalu mereka terdiam lagi.






1 comment:

  1. heii, aku suka deh postingan yang ini. :)
    btw, salam kenal ya. aku follow ya blog kmu :)

    ReplyDelete