13 Jan 2011

Abstraksi Radikal





Sebab kita semua manusia, mesin biologis yang diberi nyawa,
bukan sekedar alat pelipur lara-mu, penggembiramu.

Saya manusia dengan segala egoisme tinggal bersama saya, itulah satu-satunya alasan mengapa saya bisa memaklumi egoismemu.

Saya tidak mau menjadi mesin yang tidak punya pilihan, dikendalikan tangan-tangan lain, diucapkan mulut-mulut lain.
Saya sudah punya dua kaki, dua tangan, dan satu otak - si pengontrol pusat - terima kasih.
Saya bisa bicara meskipun saya lebih suka hening.

Kamu mau bilang saya apa, terserah, tapi,
semakin kamu membangun tembok, semakin saya merakit tangga.
Batas-batasmu itu akan saya lampaui.

Saya tidak memonopoli, mesinmu datang sendiri. Terlalu banyak pengendali membuat dia jalan di tempat. Saya tidak mengontrol, mesinmu bergerak sendiri. Itu kalau benar dia mesin.

Saya tidak suka membenci keadaan, karena keadaan tak mungkin minta maaf meskipun benar dia yang salah. Tapi saya lebih tidak suka berpura-pura menyukai apa yang tidak saya sukai.

Lagipula kalaupun benar manusia itu mesin, tak selamanya dia berfungsi untukmu.
Kamu boleh jadi pengendali, tapi mesinmu tidak butuh kamu. Bagaimanapun, mesin butuh aliran listrik.







.

No comments:

Post a Comment