3 Feb 2011

45 of 2504




....

Dan dia pun berbisik, begitu samar, berulang-ulang.

'Segalanya.'

Begitu kata-katanya.

Segalanya balas berbisik, berulang-ulang.

'Selamanya.'

Begitu kata-katanya.

Saya tidak mengerti, saya sesungguhnya tidak peduli setitikpun dari untaian kalimat yang keluar dari bibirnya. Saya hanya mendengar, tak pernah menyimak. Tak pernah sekalipun terpikir untuk menoleh dan mengamati mimik dari wajah-wajah yang berperan dalam pentas hidup itu. Entah apa itu monolognya, entah apa itu dialog dengan si ini dan si itu, entah apa itu pembicaraan yang terlalu ramai untuk disimak. Dunia miliknya terlalu jauh berbeda dengan dunia saya. Saya tidak ingin tahu, sama sekali. Biarlah saya pulang tanpa pikiran tentang dia, dan terutama yang kata dia segalanya itu.

Rintik-rintik hujan pun menghapus jejak kata-kata itu, kalimat-kalimat itu. Membuat gambaran kabur yang tak nampak dari seberang jendela, seperti melihat melalui lensa yang diselimuti embun. Biarlah tiada telinga mendengar, biarlah tiada mata melihat, biarlah tiada memori menyimpan. Saya akan bungkam, pura-pura tidak tahu. Biarlah dunianya berputar sesukanya. Biarlah tiada mulut-mulut lain yang mampu menyambung aliran kata-kata yang sudah lenyap itu.

Saya melindungi kepala dari hujan dan melangkah pulang. Sedikit terbersit sepucuk doa untuk segalanya dan selamanya, kalau memang benar kedua hal tersebut diizinkan takdir untuk saling merengkuh dan menatap, erat dan lekat, selamanya. Semoga itu menjadi suatu hal yang menyenangkan.

Dan dia pun tidak perlu menyalahkan, ataupun berterima kasih pada saya.



.

No comments:

Post a Comment