12 Mar 2011

Broken Aperture




Saya tahu, ada cahaya. Dan cahaya itupun tahu, ada saya.

Dan saya dan cahaya itu tahu, di balik juluran lengan-lengan mereka, ada kamu.

Merentangkan tangan seperti burung yang berusaha terbang di ruang hampa udara.
Menggapai-gapai ingin menangkap, tetapi hanya air yang terasa mengalir.
Siapakah itu disana, di ujung sana?
Siapakah itu yang diselimuti berjuta warna?

Membelalakkan mata hingga segalanya kabur.
Memicingkan mata hingga segalanya tampak dalam sebuah garis.
Tak percayakah kamu dengan apa yang dilihat mata?
Tak cukupkah dianugerahi lima indera?

Atau kamu masih ingin lebih, ingin melihat apa yang tidak bisa dilihat?
Ingin mengetahui apa yang tidak boleh diketahui?
Ingin memiliki apa yang tidak mungkin dimiliki?

Dan mimpi-mimpimu, akan terus menari di sekelilingmu, seperti balerina angkuh.
Seolah mengajakmu ikut menari, namun saat kamu mulai melangkahkan kaki, mereka mencampakkanmu hingga terjatuh.

Apakah kamu akan terus berusaha berdiri di atas serpihan kaca?
Akankah kamu mencoba terbang, barang sekali lagi?

Tapi kalaupun kamu ingin terbang, saya akan siaga di pucuk-pucuk bangunan, untuk menyarangkan peluru di kedua sayapmu yang rapuh itu.



//

No comments:

Post a Comment